globeimage

ID

whitearrow

Baca 7 menit

Apakah BPJS Cukup untuk Menghadapi Penyakit Kritis?

Oona

Oona

Seorang pria dalam seragam medis duduk di ruang rumah sakit sambil memegang dokumen BPJS dan polis asuransi lainnya di atas meja.

BPJS Kesehatan menyediakan perlindungan dasar termasuk beberapa penyakit kritis seperti kanker, jantung, stroke, dan gagal ginjal melalui Jaminan Kesehatan Nasional. Namun cakupannya terbatas—khususnya dari segi layanan, fleksibilitas, dan dana non-medik. Menambahkan asuransi penyakit kritis swasta bisa menjadi solusi penting untuk menjaga stabilitas finansial Anda saat kondisi terburuk terjadi.

Punya BPJS? Tapi Apakah Itu Cukup Saat Terdiagnosis Penyakit Kritis?

Bayangkan suatu pagi biasa berubah drastis saat dokter menyebut kata yang paling ditakuti; kanker atau serangan jantung yang datang tiba-tiba di usia 40-an. Di tengah kepanikan, Anda ingat bahwa Anda punya BPJS.
 

Tapi cukupkah itu? Di sinilah banyak orang mulai menyadari bahwa perlindungan dasar saja sering belum cukup saat penyakit kritis datang. Artikel ini akan mengajak Anda memahami kenyataan di balik perlindungan BPJS, celah-celah yang perlu diwaspadai, dan bagaimana asuransi penyakit kritis swasta bisa menjadi tameng finansial di saat paling genting.
 

Secara resmi, BPJS memang mencakup penyakit kritis seperti kanker, stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung. Tapi jangan salah kaprah karena itu bukan berarti semua biaya dan semua jenis layanan otomatis ditanggung.
 

Misalnya:
 

  • Biaya pemasangan ring jantung bisa mencapai Rp 80–100 juta

  • Operasi bypass? Bisa menelan biaya Rp 150–300 juta

  • Terapi kanker seperti kemoterapi atau radiasi intensif dapat memakan biaya puluhan juta per siklus
     

BPJS hanya menanggung yang masuk dalam “formularium nasional” dan mengikuti prosedur rujukan ketat. Banyak pasien kanker bahkan harus menunggu antrean berbulan-bulan hanya untuk mendapat jadwal terapi—sementara penyakitnya terus berkembang.
 

Sebuah laporan kinerja terbaru dari Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa lebih dari 70% pasien kanker terlambat datang ke rumah sakit, sering kali saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Ini bukan hanya masalah waktu tunggu—juga soal kurangnya deteksi dini dan akses terbatas ke fasilitas yang memadai. Dengan kondisi seperti ini, ketergantungan tunggal pada BPJS bisa menjadi risiko finansial besar jika diagnosis datang terlalu terlambat dan opsi terapi terbatas. Sebelum kita membahas solusi, mari kita lihat dulu bagaimana sebenarnya cakupan BPJS untuk penyakit kritis dan di mana letak celahnya.

Celah Bahaya: Ketika BPJS Tidak Cukup

Bayangkan ini: Anda sakit stroke dan butuh perawatan jangka panjang. BPJS menanggung biaya rumah sakit—tapi bagaimana dengan biaya pemulihan di rumah, terapi lanjutan, atau bahkan penghasilan yang hilang karena Anda tak bisa bekerja selama berbulan-bulan?
 

BPJS tidak menanggung:
 

  • Kehilangan penghasilan (karena tidak bisa bekerja)

  • Biaya pengasuh, alat bantu seperti kursi roda

  • Penyesuaian rumah untuk kebutuhan disabilitas

  • Obat-obatan khusus yang tidak masuk formularium nasional
     

Ini bukan sekadar spekulasi. Sebuah tinjauan sistematis terhadap penelitian tahun 2015–2020 menemukan bahwa sekitar 75% pasien kanker mengalami kesulitan keuangan yang signifikan dalam satu tahun setelah diagnosa, akibat tingginya biaya perawatan medis dan non-medis. Fenomena ini dikenal sebagai financial toxicity. Mengacu pada survei ASEAN Cost in Oncology (2014), sekitar 48% pasien kanker di kawasan Asia Tenggara melaporkan beban biaya yang sangat berat dalam 12 bulan pertama setelah diagnosis.
 

Dalam konteks Indonesia dengan fasilitas kesehatan yang sebagian besar berbasis BPJS dan akses rujukan bertingkat. Data ini menegaskan bahwa tanpa proteksi finansial tambahan, pasien dan keluarga bisa menghadapi krisis ekonomi di saat terburuknya.
 

Jangan sampai baru sadar "celahnya" ketika uang tabungan habis dan keluarga mulai meminjam ke sana kemari. Mari lihat lebih dalam. Ini bukan soal sekadar “ditanggung atau tidak” tapi seberapa besar biaya yang sebenarnya harus Anda siapkan ketika krisis datang.

Biaya Nyata Penyakit Kritis Tanpa Perlindungan Tambahan

Jenis Penyakit

Perkiraan Biaya Perawatan Total

Ditanggung BPJS?

Kanker (stadium 3–4)

Rp 150–500 juta

Sebagian, tergantung rujukan dan obat

Stroke (rawat inap + rehab)

Rp 100–300 juta

Sebagian, tidak termasuk fisioterapi di rumah

Gagal ginjal kronis (dialisis tahunan)

Rp 70–150 juta/tahun

Ditanggung, tapi antrean tinggi

Serangan jantung (ring + obat + rehab)

Rp 200–400 juta

Sebagian, tergantung rujukan


Catatan:
Estimasi biaya dapat berbeda antar rumah sakit dan wilayah.


Dan yang membuatnya lebih mengkhawatirkan, penyakit-penyakit ini tak lagi menyerang hanya mereka yang sudah lanjut usia. Tanpa proteksi tambahan, biaya perawatan penyakit kritis bisa jatuh ke tangan Anda sepenuhnya — dan risiko itu nyata, bahkan bagi usia muda. Berdasarkan data dari  Cipto Mangunkusumo Hospital (2008–2019), dari 495 pasien kanker kolorektal yang dikonfirmasi secara histopatologi, sekitar 41,4 % merupakan kasus early‑onset, atau diagnosis pada usia di bawah 50 tahun. Artinya, penyakit serius seperti kanker tidak hanya menyerang orang tua malah generasi produktif pun bisa terkena.


Ini bukan sekadar soal biaya medis, tetapi juga kehilangan penghasilan, biaya terapi lanjutan, kebutuhan non-medis, dan beban hidup keluarga saat kondisi sedang memburuk. Tanpa asuransi tambahan seperti santunan lump-sum dan manfaat fleksibel, Anda bisa menghadapi risiko finansial besar hanya dalam hitungan minggu. 


Lalu, jika BPJS tidak cukup dan risiko makin dekat, apa langkah paling logis untuk melindungi diri dan keluarga secara finansial? Di sinilah perlindungan dari Oona punya peran penting.

Perlindungan dari Oona: Fokus pada Penyakit Kritis Paling Umum

BPJS memang memberikan perlindungan dasar, tapi sering kali ada celah besar yang tidak tercakup—terutama ketika penyakit kritis menyerang dan dampaknya bukan hanya fisik, tapi juga finansial. Di sinilah Asuransi Penyakit Kritis Oona hadir, memberikan perlindungan yang spesifik, fokus, dan praktis untuk tiga penyakit paling mematikan di Indonesia iaitu kanker, serangan jantung, dan stroke. Agar lebih jelas, berikut perbandingan manfaat utama Asuransi Penyakit Kritis Oona dibandingkan dengan BPJS.

Fitur Perlindungan

Asuransi Penyakit Kritis Oona

BPJS Kesehatan

Santunan Tunai 100%

Uang pertanggungan langsung cair saat diagnosis, bisa digunakan untuk segala kebutuhan

Tidak tersedia

Proses Klaim

Tidak perlu rujukan berjenjang. Cukup dengan diagnosis valid dari rumah sakit

Harus melalui faskes 1–3 dan sistem rujukan yang kompleks

Waktu Respons

Cepat dan fleksibel, tanpa antrean fasilitas publik

Bisa tertunda karena antrean panjang & kuota fasilitas

Penggunaan Dana

Bebas digunakan: biaya hidup, pengobatan alternatif, cicilan rumah, dll.

Terbatas pada layanan medis sesuai ketentuan

Cakupan Penyakit

Fokus pada 3 besar: kanker, serangan jantung, dan stroke—penyebab kematian tertinggi di Indonesia

Cakupan lebih luas tapi tergantung pada rujukan & fasilitas


Catatan:
Oona fokus pada perlindungan menyeluruh untuk tiga penyakit kritis utama. Tabel ini bersifat ilustratif dan tidak menggantikan ringkasan polis.


Namun kenapa Oona hanya fokus pada tiga penyakit saja? Justru karena ketiganya adalah yang paling banyak menyebabkan kematian dan kecacatan di Indonesia.

Kenapa Fokus pada “Big 3” Itu Penting?

Lebih dari 60% kasus penyakit kritis di Indonesia berasal dari tiga penyakit utama iaitu kanker, serangan jantung dan stroke. Menurut data WHO, tiga dari lima kematian akibat penyakit tidak menular (non-infeksi) di Indonesia disebabkan oleh ketiganya menjadikannya penyumbang kematian terbesar di usia produktif. Namun perlindungan hanya bisa dibeli saat sehat. Itulah mengapa keputusan untuk menunda justru jadi kesalahan terbesar.

 Penyesalan Terbesar: Tahu Saat Sudah Terlambat

Salah satu kesalahan paling umum adalah menunda beli asuransi karena merasa masih sehat. Banyak orang berpikir, “Nanti saja, toh saya masih muda.” Tapi penyakit kritis tidak memilih usia. Dan yang tidak banyak disadari adalah, begitu Anda didiagnosis, Anda tidak lagi memenuhi syarat untuk membeli perlindungan.
 

Asuransi hanya bisa dibeli saat Anda masih sehat. Begitu sakit, yang bisa Anda beli hanyalah waktu dan itu mahal harganya.
 

Menurut WHO, penyakit tidak menular (NCD) merupakan penyebab utama kematian global, bertanggung jawab atas sekitar 73% dari semua kematian di Indonesia pada 2018, dengan penyakit jantung menyumbang 35%, kanker 12%, dan penyakit pernapasan kronis 6%
 

Publikasi lain menyebut bahwa sekitar sepertiga dari semua kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular (termasuk stroke dan serangan jantung), dan secara umum angka kematian akibat NCD terus meningkat dari 63% menjadi 72% dalam kurun waktu 2007–2017.
 

Untuk itu, penting untuk tahu: kapan sebaiknya mulai punya perlindungan penyakit kritis? Dan jawabannya bukan saat sakit datang.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Memiliki Asuransi Penyakit Kritis?

Waktu terbaik untuk punya perlindungan adalah saat Anda masih sehat dan belum membutuhkannya. Karena begitu penyakit datang, bukan hanya kondisi tubuh yang diuji—tapi juga kestabilan finansial.
 

Usia 30–45 tahun adalah fase paling ideal untuk mulai memiliki asuransi penyakit kritis dari Oona. Di masa inilah tanggungan hidup mulai nyata, risiko kesehatan mulai muncul, dan premi masih tergolong ringan.

Alasan

Penjelasan

Premi masih terjangkau

Risiko kesehatan lebih rendah = premi lebih murah dan nilai pertanggungan optimal

Risiko mulai meningkat

Banyak kasus kanker, stroke, dan jantung ditemukan justru di usia 30-an dan 40-an

Mulai punya tanggungan

Rumah, anak, pasangan bergantung pada penghasilan dan kesehatan Anda

Mudah disetujui

Saat masih sehat, pengajuan asuransi lebih cepat dan tanpa syarat tambahan


Jangan tunggu sampai harus menggunakan biaya sekolah anak untuk biaya pengobatan. Karena asuransi bukan soal ketakutan, tapi soal ketenangan. Kalau Anda merasa ini penting tapi belum tahu harus mulai dari mana, berikut panduan sederhana untuk mengambil langkah pertama bersama Oona.

Langkah Praktis Memulai Perlindungan Bersama Oona

Jika Anda belum tahu harus mulai dari mana, ikuti panduan sederhana berikut:
 

  1. Pilih jenis penyakit kritis yang ingin dilindungi
    Oona fokus pada kanker, stroke, dan serangan jantung. Tiga penyakit dengan risiko tertinggi di Indonesia.

  2. Tentukan jumlah santunan yang dibutuhkan
    Contoh, jika Anda ingin dana darurat minimal Rp 200 juta saat didiagnosis kanker, sesuaikan nilai pertanggungan dengan kebutuhan tersebut.

  3. Bandingkan premi berdasarkan usia dan profil kesehatan
    Oona menawarkan pilihan premi fleksibel, bahkan mulai dari Rp 100 ribuan per bulan, tergantung usia dan manfaat.

  4. Ajukan dengan mudah secara online
    Tanpa ribet, tanpa proses panjang lewat laman resmi Oona.


Lindungi diri Anda sekarang dengan Asuransi Penyakit Kritis Oona

Kesimpulan: Sehat Itu Penting, Tapi Siap Saat Sakit Itu Lebih Penting

BPJS adalah langkah awal yang baik. Tapi untuk menghadapi realita penyakit kritis—biaya tinggi, waktu respons cepat, dan kebutuhan hidup yang tidak berhenti—Anda butuh lebih dari sekadar jaminan dasar.
 

Oona hadir sebagai solusi modern: spesifik, tanggap, dan fleksibel.Karena yang terpenting bukan hanya bertahan hidup, tapi tetap hidup dengan bermartabat.
 

Jangan tunda keputusan yang bisa menyelamatkan masa depan Anda dan keluarga. Cek pilihan asuransi penyakit kritis dari Oona sekarang

Pertanyaan yang sering diajukan

Kenapa hanya tiga penyakit yang ditanggung Oona?

Answer
Karena ketiganya adalah penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia, dan paling berdampak secara finansial.
Questions
Kenapa hanya tiga penyakit yang ditanggung Oona?
Sequence Id
3
Tags

Apakah santunan hanya bisa digunakan untuk biaya medis?

Answer
Tidak. Uang bisa digunakan bebas untuk cicilan, biaya hidup, pengobatan alternatif, atau keperluan lainnya.
Questions
Apakah santunan hanya bisa digunakan untuk biaya medis?
Sequence Id
4
Tags

Apa keunggulan Oona dibanding asuransi lain?

Answer
Oona menawarkan fokus perlindungan pada Big 3, proses klaim mudah, premi kompetitif, dan fleksibilitas penggunaan dana.
Questions
Apa keunggulan Oona dibanding asuransi lain?
Sequence Id
10
Tags

Apa itu asuransi penyakit kritis dari Oona?

Answer
Asuransi ini memberikan santunan tunai langsung jika Anda terdiagnosis kanker, stroke, atau serangan jantung.
Questions
Apa itu asuransi penyakit kritis dari Oona?
Sequence Id
2
Tags

Apakah ada masa tunggu untuk klaim?

Answer
Ya, umumnya terdapat masa tunggu (waiting period) sekitar 90 hari sejak polis aktif, tergantung syarat dan ketentuan produk.
Questions
Apakah ada masa tunggu untuk klaim?
Sequence Id
6
Tags

Apakah BPJS tidak cukup untuk penyakit kritis?

Answer
BPJS menanggung layanan dasar untuk penyakit kritis tertentu, tapi tidak mencakup dana tunai, obat di luar formularium, atau biaya non-medis.
Questions
Apakah BPJS tidak cukup untuk penyakit kritis?
Sequence Id
1
Tags

Apakah saya masih bisa beli asuransi ini jika punya BPJS?

Answer
Bisa. Asuransi Oona melengkapi BPJS, bukan menggantikannya—keduanya bisa digunakan bersama.
Questions
Apakah saya masih bisa beli asuransi ini jika punya BPJS?
Sequence Id
7
Tags

Bagaimana cara klaim jika saya terdiagnosis penyakit kritis?

Answer
Cukup siapkan bukti diagnosis dari rumah sakit dan dokumen pendukung. Proses klaim Oona dirancang simpel dan cepat.
Questions
Bagaimana cara klaim jika saya terdiagnosis penyakit kritis?
Sequence Id
8
Tags

Berapa besar uang pertanggungan yang tersedia?

Answer
Tergantung produk yang Anda pilih, bisa mulai dari Rp 100 juta hingga ratusan juta rupiah.
Questions
Berapa besar uang pertanggungan yang tersedia?
Sequence Id
5
Tags

Apakah ada pengecualian tertentu?

Answer
Seperti produk asuransi lainnya, ada ketentuan pengecualian tertentu. Penting untuk membaca ringkasan polis sebelum membeli.
Questions
Apakah ada pengecualian tertentu?
Sequence Id
9
Tags

Apakah BPJS bisa jadi satu-satunya solusi untuk penyakit kritis?

Cek Harga Gratis