Celah Bahaya: Ketika BPJS Tidak Cukup
Bayangkan ini: Anda sakit stroke dan butuh perawatan jangka panjang. BPJS menanggung biaya rumah sakit—tapi bagaimana dengan biaya pemulihan di rumah, terapi lanjutan, atau bahkan penghasilan yang hilang karena Anda tak bisa bekerja selama berbulan-bulan?
BPJS tidak menanggung:
Kehilangan penghasilan (karena tidak bisa bekerja)
Biaya pengasuh, alat bantu seperti kursi roda
Penyesuaian rumah untuk kebutuhan disabilitas
Obat-obatan khusus yang tidak masuk formularium nasional
Ini bukan sekadar spekulasi. Sebuah tinjauan sistematis terhadap penelitian tahun 2015–2020 menemukan bahwa sekitar 75% pasien kanker mengalami kesulitan keuangan yang signifikan dalam satu tahun setelah diagnosa, akibat tingginya biaya perawatan medis dan non-medis. Fenomena ini dikenal sebagai financial toxicity. Mengacu pada survei ASEAN Cost in Oncology (2014), sekitar 48% pasien kanker di kawasan Asia Tenggara melaporkan beban biaya yang sangat berat dalam 12 bulan pertama setelah diagnosis.
Dalam konteks Indonesia dengan fasilitas kesehatan yang sebagian besar berbasis BPJS dan akses rujukan bertingkat. Data ini menegaskan bahwa tanpa proteksi finansial tambahan, pasien dan keluarga bisa menghadapi krisis ekonomi di saat terburuknya.
Jangan sampai baru sadar "celahnya" ketika uang tabungan habis dan keluarga mulai meminjam ke sana kemari. Mari lihat lebih dalam. Ini bukan soal sekadar “ditanggung atau tidak” tapi seberapa besar biaya yang sebenarnya harus Anda siapkan ketika krisis datang.
Biaya Nyata Penyakit Kritis Tanpa Perlindungan Tambahan
Jenis Penyakit
|
Perkiraan Biaya Perawatan Total
|
Ditanggung BPJS?
|
|---|
Kanker (stadium 3–4)
|
Rp 150–500 juta
|
Sebagian, tergantung rujukan dan obat
|
Stroke (rawat inap + rehab)
|
Rp 100–300 juta
|
Sebagian, tidak termasuk fisioterapi di rumah
|
Gagal ginjal kronis (dialisis tahunan)
|
Rp 70–150 juta/tahun
|
Ditanggung, tapi antrean tinggi
|
Serangan jantung (ring + obat + rehab)
|
Rp 200–400 juta
|
Sebagian, tergantung rujukan
|
Catatan: Estimasi biaya dapat berbeda antar rumah sakit dan wilayah.
Dan yang membuatnya lebih mengkhawatirkan, penyakit-penyakit ini tak lagi menyerang hanya mereka yang sudah lanjut usia. Tanpa proteksi tambahan, biaya perawatan penyakit kritis bisa jatuh ke tangan Anda sepenuhnya — dan risiko itu nyata, bahkan bagi usia muda. Berdasarkan data dari Cipto Mangunkusumo Hospital (2008–2019), dari 495 pasien kanker kolorektal yang dikonfirmasi secara histopatologi, sekitar 41,4 % merupakan kasus early‑onset, atau diagnosis pada usia di bawah 50 tahun. Artinya, penyakit serius seperti kanker tidak hanya menyerang orang tua malah generasi produktif pun bisa terkena.
Ini bukan sekadar soal biaya medis, tetapi juga kehilangan penghasilan, biaya terapi lanjutan, kebutuhan non-medis, dan beban hidup keluarga saat kondisi sedang memburuk. Tanpa asuransi tambahan seperti santunan lump-sum dan manfaat fleksibel, Anda bisa menghadapi risiko finansial besar hanya dalam hitungan minggu.
Lalu, jika BPJS tidak cukup dan risiko makin dekat, apa langkah paling logis untuk melindungi diri dan keluarga secara finansial? Di sinilah perlindungan dari Oona punya peran penting.
Perlindungan dari Oona: Fokus pada Penyakit Kritis Paling Umum
BPJS memang memberikan perlindungan dasar, tapi sering kali ada celah besar yang tidak tercakup—terutama ketika penyakit kritis menyerang dan dampaknya bukan hanya fisik, tapi juga finansial. Di sinilah Asuransi Penyakit Kritis Oona hadir, memberikan perlindungan yang spesifik, fokus, dan praktis untuk tiga penyakit paling mematikan di Indonesia iaitu kanker, serangan jantung, dan stroke. Agar lebih jelas, berikut perbandingan manfaat utama Asuransi Penyakit Kritis Oona dibandingkan dengan BPJS.
Fitur Perlindungan
|
Asuransi Penyakit Kritis Oona
|
BPJS Kesehatan
|
|---|
Santunan Tunai 100%
|
Uang pertanggungan langsung cair saat diagnosis, bisa digunakan untuk segala kebutuhan
|
Tidak tersedia
|
Proses Klaim
|
Tidak perlu rujukan berjenjang. Cukup dengan diagnosis valid dari rumah sakit
|
Harus melalui faskes 1–3 dan sistem rujukan yang kompleks
|
Waktu Respons
|
Cepat dan fleksibel, tanpa antrean fasilitas publik
|
Bisa tertunda karena antrean panjang & kuota fasilitas
|
Penggunaan Dana
|
Bebas digunakan: biaya hidup, pengobatan alternatif, cicilan rumah, dll.
|
Terbatas pada layanan medis sesuai ketentuan
|
Cakupan Penyakit
|
Fokus pada 3 besar: kanker, serangan jantung, dan stroke—penyebab kematian tertinggi di Indonesia
|
Cakupan lebih luas tapi tergantung pada rujukan & fasilitas
|
Catatan: Oona fokus pada perlindungan menyeluruh untuk tiga penyakit kritis utama. Tabel ini bersifat ilustratif dan tidak menggantikan ringkasan polis.
Namun kenapa Oona hanya fokus pada tiga penyakit saja? Justru karena ketiganya adalah yang paling banyak menyebabkan kematian dan kecacatan di Indonesia.
Kenapa Fokus pada “Big 3” Itu Penting?
Lebih dari 60% kasus penyakit kritis di Indonesia berasal dari tiga penyakit utama iaitu kanker, serangan jantung dan stroke. Menurut data WHO, tiga dari lima kematian akibat penyakit tidak menular (non-infeksi) di Indonesia disebabkan oleh ketiganya menjadikannya penyumbang kematian terbesar di usia produktif. Namun perlindungan hanya bisa dibeli saat sehat. Itulah mengapa keputusan untuk menunda justru jadi kesalahan terbesar.
Penyesalan Terbesar: Tahu Saat Sudah Terlambat
Salah satu kesalahan paling umum adalah menunda beli asuransi karena merasa masih sehat. Banyak orang berpikir, “Nanti saja, toh saya masih muda.” Tapi penyakit kritis tidak memilih usia. Dan yang tidak banyak disadari adalah, begitu Anda didiagnosis, Anda tidak lagi memenuhi syarat untuk membeli perlindungan.
Asuransi hanya bisa dibeli saat Anda masih sehat. Begitu sakit, yang bisa Anda beli hanyalah waktu dan itu mahal harganya.
Menurut WHO, penyakit tidak menular (NCD) merupakan penyebab utama kematian global, bertanggung jawab atas sekitar 73% dari semua kematian di Indonesia pada 2018, dengan penyakit jantung menyumbang 35%, kanker 12%, dan penyakit pernapasan kronis 6%
Publikasi lain menyebut bahwa sekitar sepertiga dari semua kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular (termasuk stroke dan serangan jantung), dan secara umum angka kematian akibat NCD terus meningkat dari 63% menjadi 72% dalam kurun waktu 2007–2017.
Untuk itu, penting untuk tahu: kapan sebaiknya mulai punya perlindungan penyakit kritis? Dan jawabannya bukan saat sakit datang.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Memiliki Asuransi Penyakit Kritis?
Waktu terbaik untuk punya perlindungan adalah saat Anda masih sehat dan belum membutuhkannya. Karena begitu penyakit datang, bukan hanya kondisi tubuh yang diuji—tapi juga kestabilan finansial.
Usia 30–45 tahun adalah fase paling ideal untuk mulai memiliki asuransi penyakit kritis dari Oona. Di masa inilah tanggungan hidup mulai nyata, risiko kesehatan mulai muncul, dan premi masih tergolong ringan.
Alasan
|
Penjelasan
|
|---|
Premi masih terjangkau
|
Risiko kesehatan lebih rendah = premi lebih murah dan nilai pertanggungan optimal
|
Risiko mulai meningkat
|
Banyak kasus kanker, stroke, dan jantung ditemukan justru di usia 30-an dan 40-an
|
Mulai punya tanggungan
|
Rumah, anak, pasangan bergantung pada penghasilan dan kesehatan Anda
|
Mudah disetujui
|
Saat masih sehat, pengajuan asuransi lebih cepat dan tanpa syarat tambahan
|
Jangan tunggu sampai harus menggunakan biaya sekolah anak untuk biaya pengobatan. Karena asuransi bukan soal ketakutan, tapi soal ketenangan. Kalau Anda merasa ini penting tapi belum tahu harus mulai dari mana, berikut panduan sederhana untuk mengambil langkah pertama bersama Oona.
Langkah Praktis Memulai Perlindungan Bersama Oona
Jika Anda belum tahu harus mulai dari mana, ikuti panduan sederhana berikut:
Pilih jenis penyakit kritis yang ingin dilindungi
Oona fokus pada kanker, stroke, dan serangan jantung. Tiga penyakit dengan risiko tertinggi di Indonesia.
Tentukan jumlah santunan yang dibutuhkan
Contoh, jika Anda ingin dana darurat minimal Rp 200 juta saat didiagnosis kanker, sesuaikan nilai pertanggungan dengan kebutuhan tersebut.
Bandingkan premi berdasarkan usia dan profil kesehatan
Oona menawarkan pilihan premi fleksibel, bahkan mulai dari Rp 100 ribuan per bulan, tergantung usia dan manfaat.
Ajukan dengan mudah secara online
Tanpa ribet, tanpa proses panjang lewat laman resmi Oona.
Lindungi diri Anda sekarang dengan Asuransi Penyakit Kritis Oona