Penyakit Kritis di Usia Muda, Gen Z dan Milenial Perlu Waspada
Pernah merasa masih terlalu muda untuk memikirkan penyakit kritis? Mungkin karena aktivitas sehari-hari masih padat, tubuh masih terasa bugar, dan tidak ada keluhan berarti. Ketika merasa sehat, pemeriksaan kesehatan dan persiapan menghadapi risiko penyakit memang sering kali berada di urutan belakang.
Padahal, penyakit serius tidak hanya berkaitan dengan usia. Kondisi kesehatan seseorang dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, fisiologis, lingkungan, dan perilaku. WHO juga menegaskan bahwa penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan stroke, kanker, diabetes, serta penyakit pernapasan kronis dapat memengaruhi semua kelompok usia. Faktor seperti penggunaan tembakau, kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, konsumsi alkohol berbahaya, dan polusi udara turut meningkatkan risikonya.
Data global menunjukkan mengapa risiko ini tidak sebaiknya dianggap sebagai persoalan usia lanjut saja. Menurut WHO, pada 2021 terdapat sekitar 18 juta kematian akibat penyakit tidak menular yang terjadi sebelum usia 70 tahun. Sekitar 82% dari kematian prematur tersebut terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Penyakit kardiovaskular menjadi penyumbang kematian terbesar, diikuti kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes.
Di Indonesia, gambaran risikonya juga perlu mendapat perhatian. Laporan Kementerian Kesehatan menyebut penyakit tidak menular menyumbang sekitar 64,4% dari seluruh kematian di Indonesia pada 2021, dengan penyakit jantung iskemik dan stroke termasuk kontributor utama. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 29,2%, jauh lebih tinggi dibandingkan prevalensi berdasarkan diagnosis dokter sebesar 8%. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sebagian orang dapat memiliki tekanan darah tinggi tanpa sebelumnya mengetahui kondisinya.
Stroke pun bukan hanya menyerang kelompok lanjut usia. Kementerian Kesehatan menyebut stroke kini juga ditemukan pada usia produktif. Secara nasional, prevalensi stroke berdasarkan SKI 2023 mencapai 8,3 per 1.000 penduduk, dan penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama kecacatan serta kematian di Indonesia.
Karena itu, memperhatikan risiko penyakit kritis sejak muda bukan berarti harus hidup dengan rasa khawatir bahwa kondisi tersebut pasti akan terjadi. Sebaliknya, usia produktif dapat menjadi waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan sehat, mengenali riwayat kesehatan keluarga, melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan, serta mulai mempersiapkan diri terhadap kemungkinan yang tidak terduga.
Dengan memahami risiko lebih awal, kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk menjaga kesehatan sekaligus mempersiapkan dampak lain yang mungkin muncul apabila kondisi kesehatan serius terjadi, termasuk perubahan aktivitas, pekerjaan, dan kebutuhan finansial.
Kenapa Gen Z dan Milenial Perlu Mulai Memperhatikan Risiko Penyakit Kritis?
Berada di usia produktif sering kali membuat kesehatan terasa seperti sesuatu yang masih bisa dipikirkan nanti. Padahal, justru pada fase ini banyak orang sedang aktif bekerja, membangun karier, mengejar target finansial, hingga mulai memiliki tanggungan. Jika penyakit serius terjadi, dampaknya dapat memengaruhi lebih dari kondisi kesehatan.
1. Faktor Risiko Bisa Terbentuk Sejak Usia Muda
Risiko penyakit tidak muncul begitu saja ketika seseorang memasuki usia lanjut. Kebiasaan yang dijalani sejak muda, seperti kurang bergerak, pola makan tidak seimbang, merokok, kurang tidur, hingga stres berkepanjangan, dapat menjadi bagian dari faktor risiko kesehatan. Riwayat keluarga dan kondisi kesehatan tertentu juga perlu diperhatikan.
Karena itu, usia muda justru menjadi kesempatan untuk mulai mengenali faktor risiko dan membangun kebiasaan yang lebih sehat sejak dini.
2. Kesibukan di Usia Produktif Bisa Membuat Kesehatan Terabaikan
Bekerja, commuting, mengejar deadline, bersosialisasi, hingga mengurus keluarga dapat membuat jadwal Gen Z dan Milenial cukup padat. Akibatnya, olahraga, tidur cukup, pola makan seimbang, bahkan pemeriksaan kesehatan sering kali bukan menjadi prioritas.
Tubuh yang masih terasa bugar juga dapat membuat seseorang merasa belum perlu melakukan pemeriksaan. Padahal, beberapa faktor risiko seperti tekanan darah tinggi dapat muncul tanpa gejala yang jelas.
3. Penyakit Kritis Bisa Mengganggu Karier dan Produktivitas
Ketika penyakit serius terjadi, seseorang mungkin membutuhkan perawatan, kontrol rutin, atau masa pemulihan yang tidak sebentar. Kondisi tersebut dapat membuat aktivitas sehari-hari berubah dan kemampuan untuk bekerja seperti biasa ikut terdampak.
Bagi Gen Z dan Milenial yang sedang berada dalam fase membangun karier, perubahan ini dapat memengaruhi pekerjaan, pendapatan, hingga rencana yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.
4. Dampak Finansial Bisa Lebih Luas dari Biaya Rumah Sakit
Biaya pengobatan bukan satu-satunya konsekuensi finansial yang mungkin muncul. Selama menjalani pengobatan atau pemulihan, seseorang tetap dapat memiliki kebutuhan sehari-hari, cicilan, biaya transportasi, maupun kebutuhan keluarga.
Pada saat yang sama, kondisi kesehatan tertentu dapat membuat seseorang harus mengurangi aktivitas atau berhenti bekerja untuk sementara. Artinya, pengeluaran berpotensi meningkat ketika kemampuan memperoleh penghasilan justru menurun.
5. Memulai Lebih Awal Memberikan Waktu untuk Mempersiapkan Diri
Memperhatikan penyakit kritis sejak muda bukan berarti menganggap penyakit pasti akan terjadi. Sebaliknya, ini memberikan lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang masih dapat dikendalikan.
Penyakit Serius yang Perlu Diwaspadai Gen Z dan Milenial
Penyakit serius tidak hanya perlu diperhatikan ketika memasuki usia lanjut. Saat ini, beberapa penyakit tidak menular yang menjadi beban kesehatan utama di Indonesia juga berkaitan dengan faktor risiko yang dapat berkembang sejak usia muda. Kementerian Kesehatan menyoroti penyakit jantung, stroke, kanker, dan penyakit ginjal sebagai beberapa penyakit tidak menular yang menjadi perhatian utama di Indonesia.
Penyakit Jantung dan Serangan Jantung
Penyakit jantung menjadi salah satu kondisi yang semakin penting diperhatikan sejak usia muda. Kementerian Kesehatan pada 2025 secara khusus mengingatkan bahwa kasus serangan jantung juga ditemukan pada kelompok usia 20–40 tahun. Gaya hidup kurang aktif, pola makan tidak sehat, merokok, serta berbagai faktor metabolik dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko.
Karena itu, merasa masih muda dan bugar tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kesehatan jantung.
Stroke
Stroke juga tidak lagi hanya dikaitkan dengan kelompok lanjut usia. Kementerian Kesehatan menyebut stroke mulai ditemukan pada usia produktif. Berdasarkan SKI 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Hipertensi, diabetes, gangguan lemak darah, penyakit jantung, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, dan konsumsi alkohol merupakan beberapa faktor risiko yang dapat berperan.
Kanker
Kanker masih menjadi salah satu penyakit serius dengan beban besar di Indonesia. Kementerian Kesehatan pada 2025 menyebut sekitar 400 ribu kasus kanker baru terdeteksi setiap tahun di Indonesia, dengan sekitar 240 ribu kematian. Jumlah kasus diproyeksikan meningkat lebih dari 70% pada 2050 apabila upaya pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat.
Risiko kanker berbeda untuk setiap jenisnya dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia, genetik, gaya hidup, infeksi tertentu, dan paparan lingkungan.
Penyakit Ginjal Kronis
Penyakit ginjal juga perlu mendapat perhatian karena pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Hipertensi dan diabetes termasuk kondisi yang dapat berkontribusi terhadap penyakit ginjal kronis. Jika kerusakan terus berkembang hingga stadium lanjut, pasien dapat membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti dialisis atau transplantasi.
Diabetes
Diabetes semakin relevan dibicarakan pada kelompok usia produktif. Pada 2025, Kementerian Kesehatan menyebut sekitar satu dari sepuluh orang di Indonesia menderita diabetes dan memperingatkan bahwa, jika tren obesitas berlanjut, usia munculnya diabetes dapat bergeser dari usia 50-an menjadi 30-an.
Diabetes juga penting diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk penyakit kardiovaskular dan gangguan ginjal.
Faktor yang Dapat Memengaruhi Risiko Penyakit Serius
Risiko kesehatan setiap orang berbeda dan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan usia. Faktor genetik, kondisi kesehatan, lingkungan, serta kebiasaan sehari-hari dapat saling berinteraksi dan memengaruhi risiko seseorang mengalami penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes, dan penyakit ginjal.
Beberapa faktor tidak dapat diubah, seperti usia dan riwayat keluarga. Namun, ada pula faktor yang dapat dikelola melalui perubahan gaya hidup dan pemantauan kesehatan.
Riwayat Keluarga dan Faktor Genetik
Riwayat penyakit tertentu dalam keluarga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi serupa. Misalnya, riwayat keluarga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, maupun beberapa jenis kanker.
Memiliki riwayat keluarga bukan berarti seseorang pasti akan mengalami penyakit tersebut. Namun, informasi ini dapat membantu menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau pemantauan kesehatan lebih awal bersama tenaga kesehatan.
Pola Makan
Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam, gula, lemak jenuh, serta makanan yang diproses secara berlebihan dapat berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko penyakit tidak menular.
Sebaliknya, pola makan seimbang dengan sayur, buah, sumber protein, dan sumber karbohidrat yang sesuai kebutuhan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga berat badan, tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol.
Kurang Aktivitas Fisik
Gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk menjadi hal yang semakin relevan bagi Gen Z dan Milenial, terutama bagi mereka yang banyak menghabiskan waktu bekerja di depan komputer.
WHO menyebut kurangnya aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit tidak menular. Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga kesehatan jantung, berat badan, tekanan darah, dan metabolisme tubuh.
Merokok
Penggunaan tembakau merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular. Merokok berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, penyakit pernapasan, serta berbagai jenis kanker.
Risiko juga tidak hanya berasal dari rokok konvensional. Paparan asap rokok dari orang lain tetap perlu dihindari. Berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan.
Konsumsi Alkohol
Konsumsi alkohol juga perlu diperhatikan. WHO menyebut alkohol sebagai salah satu faktor risiko penyakit tidak menular dan mengaitkannya dengan berbagai kondisi, termasuk penyakit hati, penyakit kardiovaskular, serta beberapa jenis kanker.
Karena itu, menghindari atau membatasi konsumsi alkohol dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi faktor risiko kesehatan.
Stres dan Kurang Istirahat
Deadline pekerjaan, perjalanan, aktivitas sosial, dan berbagai tuntutan sehari-hari dapat membuat stres dan kurang tidur menjadi bagian dari rutinitas usia produktif.
Stres berkepanjangan dan pola tidur yang buruk dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan dan juga berkaitan dengan kebiasaan lain, seperti pola makan yang kurang sehat atau berkurangnya aktivitas fisik. Karena itu, menyediakan waktu untuk tidur yang cukup, beristirahat, dan mengelola stres tetap penting.
Berat Badan Berlebih dan Obesitas
Berat badan berlebih dan obesitas merupakan faktor yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker.
Hal ini semakin relevan bagi kelompok usia muda. Kementerian Kesehatan pada 2025 memperingatkan bahwa apabila tren obesitas terus meningkat, usia munculnya diabetes di Indonesia berpotensi bergeser dari usia 50-an menjadi 30-an.
Tekanan Darah, Gula Darah, dan Kolesterol
Beberapa faktor risiko penyakit serius dapat berkembang tanpa menimbulkan keluhan yang jelas. Tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kadar kolesterol yang tidak terkontrol, misalnya, dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kondisi kesehatan lainnya.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan sesuai usia, kondisi tubuh, dan faktor risiko dapat membantu mengetahui kondisi tersebut lebih awal. Hasil pemeriksaan sebaiknya didiskusikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah yang sesuai.
Apa yang Bisa Dilakukan Sejak Usia Muda?
Menjaga kesehatan sejak muda tidak harus dimulai dengan perubahan besar sekaligus. Justru, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mengelola berbagai faktor risiko penyakit tidak menular. Selain gaya hidup, penting juga untuk mengenali kondisi tubuh dan melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.
Berikut beberapa langkah yang dapat mulai dilakukan:
Langkah
|
Penjelasan
|
|---|
Jaga Pola Makan Seimbang
|
Perbanyak variasi makanan dengan sayur, buah, sumber protein, dan karbohidrat yang sesuai kebutuhan. Batasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, lemak jenuh, serta makanan yang diproses secara berlebihan.
|
Tetap Aktif Bergerak
|
Kurangi waktu duduk terlalu lama dan sisihkan waktu untuk aktivitas fisik secara rutin. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas tinggi.
|
Hindari Rokok
|
Tidak merokok dan menghindari paparan asap rokok merupakan langkah penting untuk mengurangi berbagai risiko kesehatan, termasuk penyakit jantung, stroke, penyakit pernapasan, dan beberapa jenis kanker.
|
Batasi Konsumsi Alkohol
|
Konsumsi alkohol berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan. Menghindari atau membatasi konsumsinya dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jangka panjang.
|
Prioritaskan Tidur dan Recovery
|
Usahakan memiliki waktu tidur yang cukup dan jadwal tidur yang relatif konsisten. Jangan terus-menerus mengorbankan waktu istirahat karena pekerjaan, aktivitas sosial, atau penggunaan gadget.
|
Kelola Stres
|
Cari cara yang sehat untuk menghadapi tekanan sehari-hari, misalnya berolahraga, melakukan hobi, berinteraksi dengan orang terdekat, atau menyediakan waktu untuk beristirahat dari rutinitas.
|
Pantau Kondisi Kesehatan
|
Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, berat badan, dan indikator kesehatan lainnya dapat dipertimbangkan sesuai usia dan faktor risiko. Pemeriksaan dapat membantu menemukan kondisi yang mungkin belum menimbulkan gejala.
|
Kenali Riwayat Kesehatan Keluarga
|
Cari tahu apakah terdapat riwayat penyakit seperti jantung, stroke, diabetes, hipertensi, atau kanker tertentu dalam keluarga. Informasi ini dapat membantu saat berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai risiko dan pemeriksaan yang sesuai.
|
Catatan: Tidak ada satu kebiasaan atau pemeriksaan yang dapat menjamin seseorang terbebas dari penyakit kritis. Kebutuhan pemeriksaan kesehatan juga dapat berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, kondisi kesehatan, serta faktor risiko masing-masing. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan jenis dan frekuensi pemeriksaan yang sesuai.
Sehat Hari Ini, Tetap Persiapkan Perlindungan untuk Masa Depan
Menjalani gaya hidup sehat merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Namun, pola makan seimbang, rutin berolahraga, cukup istirahat, dan melakukan pemeriksaan kesehatan tetap tidak dapat menghilangkan seluruh risiko penyakit di masa depan.
Bagi Gen Z dan Milenial yang sedang berada di usia produktif, kondisi kesehatan serius juga dapat berdampak pada kondisi finansial. Ketika seseorang membutuhkan perawatan atau harus mengurangi aktivitas untuk sementara, biaya yang muncul tidak selalu terbatas pada pengobatan. Kebutuhan sehari-hari, transportasi, pendampingan, cicilan, hingga kebutuhan keluarga dapat tetap berjalan ketika kemampuan untuk bekerja atau memperoleh penghasilan justru berkurang.
Karena itu, persiapan menghadapi risiko penyakit kritis dapat dilakukan dari dua sisi:
Menjaga kesehatan sekaligus mempersiapkan kondisi finansial. Setidaknya sudah memiliki dana darurat dan asuransi kesehatan.
Melengkapi dengan Asuransi Penyakit Kritis Oona sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Pada dasarnya, asuransi penyakit kritis memiliki fungsi yang berbeda dengan asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan umumnya memberikan manfaat terkait biaya perawatan medis sesuai ketentuan polis, sedangkan asuransi penyakit kritis pada produk tertentu dapat memberikan santunan tunai ketika Tertanggung mengalami kondisi kritis yang memenuhi definisi dalam polis. Santunan tersebut dapat membantu memberikan fleksibilitas finansial selama menghadapi perawatan dan masa pemulihan.
Oona menyediakan pilihan perlindungan untuk beberapa kondisi penyakit kritis. Asuransi Stroke Oona menawarkan premi mulai dari Rp5.500 per bulan dengan santunan tunai hingga Rp100 juta. Besaran premi dan manfaat tetap mengikuti ketentuan produk dan polis yang berlaku.
Apakah gen Z dan Milenial perlu memiliki asuransi penyakit kritis sejak sekarang?