Apa Itu Serangan Jantung?
Serangan jantung atau heart attack terjadi ketika aliran darah ke sebagian otot jantung tiba-tiba terhambat atau terputus. Penyebab paling umum adalah penyakit jantung koroner, yaitu penumpukan plak di pembuluh darah koroner. Ketika plak pecah, bekuan darah dapat terbentuk dan menyumbat pembuluh darah sehingga otot jantung tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Tanpa penanganan cepat, jaringan otot jantung dapat mulai mengalami kerusakan.
Besarnya dampak penyakit ini terlihat dari data global. WHO mencatat penyakit jantung iskemik, yang menjadi kondisi dasar sebagian besar serangan jantung, menyebabkan sekitar 9 juta kematian pada 2021 atau sekitar 13% dari seluruh kematian di dunia. WHO juga mencatat sekitar 85% kematian akibat penyakit kardiovaskular disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.
Di Indonesia, data terbaru Kementerian Kesehatan juga menunjukkan besarnya beban penyakit jantung. Berdasarkan SKI 2023, prevalensi penyakit jantung yang didiagnosis dokter mencapai 0,85%. Dokumen Kemenkes tahun 2026 juga mencatat rata-rata kejadian serangan jantung pada penyakit jantung koroner sebesar 222,3 per 100.000 penduduk, yang diperkirakan mendekati 700.000 serangan jantung per tahun jika dihitung terhadap jumlah penduduk Indonesia.
Penting dipahami bahwa serangan jantung tidak sama dengan jantung berhenti berdetak. Saat serangan jantung terjadi, jantung biasanya masih memompa darah dan orang tersebut dapat tetap sadar. Namun, serangan jantung dapat memicu gangguan irama berbahaya dan dalam kondisi tertentu berkembang menjadi henti jantung.
Gejala Serangan Jantung yang Perlu Dikenali
Gejalanya dapat berupa rasa tertekan, terjepit, penuh atau nyeri di dada. Rasa tidak nyaman juga dapat menjalar ke satu atau kedua lengan, bahu, punggung, leher atau rahang. Keluhan lain dapat berupa sesak napas, mual atau muntah, pusing, keringat dingin, dan tubuh terasa sangat lelah. Gejala tidak selalu muncul dengan pola yang sama pada setiap orang.
Bahkan, serangan jantung dapat terjadi tanpa gejala yang jelas. Sebagai gambaran, data CDC di Amerika Serikat memperkirakan sekitar 1 dari 5 serangan jantung bersifat “silent”, yaitu kerusakan pada jantung telah terjadi tetapi orang yang mengalaminya tidak menyadarinya.
Karena setiap menit sangat berarti bagi otot jantung, gejala yang mengarah pada serangan jantung sebaiknya tidak ditunggu hingga semakin berat. Segera cari pertolongan medis.
Apa Itu Henti Jantung?
Berbeda dengan serangan jantung yang terutama merupakan masalah sirkulasi darah, henti jantung atau cardiac arrest terutama terjadi ketika sistem listrik jantung mengalami gangguan sehingga jantung tiba-tiba tidak mampu memompa darah secara efektif. Akibatnya, aliran darah menuju otak, paru-paru, dan organ vital lainnya terhenti.
Dalam hitungan detik, orang yang mengalami henti jantung biasanya kehilangan kesadaran dan tidak bernapas normal atau hanya megap-megap. Inilah yang membuat henti jantung menjadi kondisi yang sangat kritis dan membutuhkan tindakan dalam hitungan menit, bukan jam.
Data American Heart Association menunjukkan tingkat keselamatan pada henti jantung di luar rumah sakit masih rendah. Berdasarkan data Amerika Serikat tahun 2024, hanya sekitar 10,5% pasien henti jantung di luar rumah sakit yang ditangani layanan medis darurat bertahan hingga keluar dari rumah sakit.
Namun, tindakan orang di sekitar korban dapat membuat perbedaan. American Heart Association menyebut CPR yang segera dilakukan dapat meningkatkan peluang keselamatan sekitar dua hingga tiga kali lipat. Henti jantung dan serangan jantung juga dapat saling berhubungan. Keduanya bukan kondisi yang sama, tetapi serangan jantung dapat menjadi salah satu pemicu henti jantung.
Tanda Henti Jantung yang Perlu Dikenali
Jika seseorang tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera hubungi layanan darurat medis 119 di Indonesia dan minta orang lain mengambil AED jika tersedia. Mulai CPR sesuai pelatihan atau ikuti panduan petugas darurat melalui telepon. CPR dan defibrilasi dengan AED yang dilakukan secepat mungkin dapat membantu mempertahankan aliran darah dan meningkatkan peluang keselamatan.
Henti jantung membutuhkan tindakan dalam hitungan menit. Jangan memberikan makanan atau minuman kepada orang yang tidak sadar, dan jangan meninggalkan korban untuk mencari bantuan sendirian jika ada orang lain yang dapat melakukan panggilan darurat.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Henti Jantung?
Jika seseorang tiba-tiba tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera minta bantuan medis darurat. Hubungi layanan darurat medis 119 di Indonesia, mulai CPR, dan minta orang lain mengambil AED (automated external defibrillator) jika tersedia.
AED dapat menganalisis irama jantung dan memberikan kejutan listrik apabila memang diperlukan. Pengguna tidak perlu menentukan sendiri apakah korban membutuhkan kejutan karena perangkat akan melakukan analisis tersebut.
Apa Itu Gagal Jantung?
Istilah gagal jantung atau heart failure sering disalahartikan sebagai jantung yang sudah berhenti bekerja. Padahal, jantung masih bekerja. Masalahnya adalah kemampuan jantung untuk memompa darah atau mengakomodasi aliran darah sudah tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Akibatnya, tubuh mungkin tidak memperoleh darah kaya oksigen secara optimal dan cairan dapat menumpuk, termasuk di paru-paru, kaki, dan pergelangan kaki. Karena itulah penderita gagal jantung dapat mengalami sesak napas, mudah lelah dan pembengkakan.
Berbeda dengan henti jantung yang terjadi secara mendadak, gagal jantung umumnya merupakan kondisi kronis yang berkembang dan membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Bebannya juga besar secara global. Menurut konsensus internasional terbaru yang diumumkan American Heart Association pada Juni 2026, diperkirakan lebih dari 64 juta orang dewasa di dunia hidup dengan gagal jantung. Prevalensinya terus meningkat antara lain seiring bertambahnya usia populasi serta meningkatnya kondisi seperti obesitas, diabetes tipe 2 dan tekanan darah tinggi.
Gagal jantung juga bukan satu penyakit dengan satu penyebab. Kondisi ini dapat berkembang setelah jantung mengalami kerusakan atau bekerja terlalu keras dalam waktu lama. Penyebab dan faktor yang mendasarinya antara lain penyakit jantung koroner, serangan jantung sebelumnya, tekanan darah tinggi, gangguan katup jantung, gangguan irama jantung dan diabetes.
Gejala Gagal Jantung yang Perlu Dikenali
Gejala dapat berkembang secara perlahan sehingga pada awalnya mudah dianggap sebagai kelelahan biasa. Keluhan yang dapat muncul meliputi sesak napas saat beraktivitas atau berbaring, mudah lelah, batuk atau mengi yang menetap, pembengkakan kaki dan pergelangan kaki, kenaikan berat badan akibat penumpukan cairan, serta jantung berdebar.
Gagal jantung dapat dikelola melalui pengobatan, pemantauan medis dan perubahan gaya hidup sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan dapat mencakup evaluasi fisik, elektrokardiogram (EKG), tes darah, rontgen dada dan ekokardiogram untuk melihat struktur serta fungsi jantung.
Jadi, paling gampang dibedakan seperti ini: serangan jantung adalah masalah aliran darah ke otot jantung, henti jantung adalah masalah listrik jantung yang menyebabkan fungsi pompa berhenti, sedangkan gagal jantung adalah masalah kemampuan jantung memompa darah secara memadai. Ketiganya serius, tetapi mekanisme, perjalanan penyakit, dan respons yang dibutuhkan berbeda.
Perbedaan Gejala yang Perlu Diperhatikan
Meskipun sama-sama berkaitan dengan jantung, serangan jantung, henti jantung, dan gagal jantung dapat menunjukkan pola gejala yang berbeda. Berikut gambaran umum yang dapat membantu mengenali perbedaannya:
Kondisi
|
Gejala yang Perlu Diperhatikan
|
Pola Gejala
|
|---|
Serangan Jantung
|
Nyeri, tekanan, rasa penuh atau tidak nyaman di dada; nyeri yang dapat menjalar ke lengan, bahu, punggung, leher, rahang, atau perut; sesak napas; keringat dingin; mual atau muntah; pusing; serta kelelahan yang tidak biasa
|
Dapat muncul tiba-tiba atau berkembang secara bertahap. Gejala tidak selalu berupa nyeri dada hebat dan pada sebagian orang dapat terasa lebih samar
|
Henti Jantung
|
Tiba-tiba kolaps atau jatuh; kehilangan kesadaran; tidak merespons saat dipanggil atau disentuh; tidak bernapas normal atau hanya megap-megap. Sebelum kolaps, sebagian orang dapat mengalami nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, atau pusing
|
Biasanya terjadi secara tiba-tiba dan dalam waktu singkat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran. Kondisi ini membutuhkan pertolongan segera
|
Gagal Jantung
|
Sesak napas saat beraktivitas atau berbaring; cepat lelah atau lemah; pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau tungkai; batuk atau mengi yang menetap; kenaikan berat badan akibat penumpukan cairan; jantung berdebar; serta kesulitan bernapas ketika berbaring
|
Umumnya berkembang secara bertahap atau memburuk dari waktu ke waktu, meskipun gagal jantung juga dapat mengalami perburukan akut
|
Catatan: Gejala ketiga kondisi tersebut dapat tumpang tindih dan berbeda pada setiap orang. Tabel ini hanya memberikan gambaran umum dan tidak dapat digunakan untuk menentukan diagnosis sendiri. Henti jantung merupakan kegawatdaruratan medis. Sementara itu, gejala yang mengarah pada serangan jantung juga memerlukan pertolongan medis segera. Jika seseorang tidak sadar dan tidak bernapas normal atau hanya megap-megap, segera hubungi layanan darurat medis dan lakukan CPR sesuai panduan petugas atau pelatihan yang pernah diterima.
Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?
Keluhan yang berkaitan dengan jantung tidak selalu muncul dengan pola yang sama. Namun, beberapa tanda perlu mendapatkan perhatian segera karena dapat menunjukkan kondisi yang mengancam nyawa.
Jika mengarah pada serangan jantung, segera cari pertolongan medis ketika muncul nyeri, tekanan, rasa terjepit, atau tidak nyaman di dada, terutama jika berlangsung beberapa menit, hilang dan muncul kembali, atau disertai sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, maupun rasa tidak nyaman yang menjalar ke lengan, punggung, leher, rahang, atau perut. Gejala serangan jantung dapat berbeda pada setiap orang dan tidak selalu berupa nyeri dada yang hebat.
Jika mengarah pada henti jantung, tindakan harus dilakukan segera. Waspadai ketika seseorang:
Tiba-tiba jatuh atau kolaps
Kehilangan kesadaran
Tidak memberikan respons ketika dipanggil atau disentuh
Tidak bernapas normal
Hanya megap-megap atau gasping
Jika tanda tersebut terjadi, hubungi layanan darurat medis 119, segera mulai CPR, dan gunakan AED apabila tersedia dengan mengikuti petunjuk perangkat atau arahan petugas. Henti jantung menyebabkan jantung berhenti memompa darah secara efektif sehingga pertolongan dalam hitungan menit sangat penting.
Jika mengarah pada gagal jantung, beberapa perubahan gejala juga perlu segera dikonsultasikan, terutama sesak napas yang baru muncul atau semakin berat, pembengkakan kaki atau pergelangan kaki yang bertambah, kenaikan berat badan yang cepat akibat kemungkinan penumpukan cairan, mudah lelah yang semakin berat, atau kemampuan beraktivitas yang menurun. Sesak napas berat yang muncul mendadak atau keluhan yang terasa mengancam nyawa membutuhkan pertolongan darurat.
Perhatikan: Jangan mencoba menentukan sendiri apakah keluhan yang dialami merupakan serangan jantung, henti jantung, gagal jantung, atau kondisi lain. Jika terdapat gejala berat atau kondisi seseorang memburuk dengan cepat, segera cari pertolongan medis.
Faktor Risiko yang Perlu Diperhatikan
Masalah pada jantung dapat dipengaruhi oleh kombinasi kondisi kesehatan, kebiasaan sehari-hari, usia, dan faktor genetik. Memiliki satu atau beberapa faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan mengalami penyakit jantung. Namun, semakin banyak faktor yang dimiliki, semakin penting untuk melakukan pemantauan dan mengelolanya bersama tenaga kesehatan.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain:
Tekanan darah tinggi. Hipertensi membuat jantung dan pembuluh darah bekerja dalam tekanan yang lebih tinggi. Kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan tekanan darah secara rutin penting dilakukan.
Kolesterol tinggi atau tidak sehat. Kadar LDL yang tinggi dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang mengendalikan jantung.
Merokok. Zat dalam asap rokok dapat merusak jantung dan pembuluh darah serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan serangan jantung.
Kurang aktivitas fisik. Kebiasaan kurang bergerak dapat berkaitan dengan faktor risiko lain, termasuk obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.
Kelebihan berat badan dan obesitas. Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, gangguan kolesterol, diabetes, dan penyakit jantung.
Pola makan yang kurang sehat. Konsumsi berlebihan makanan tinggi lemak jenuh, lemak trans, natrium, dan makanan olahan dapat memengaruhi faktor risiko kardiovaskular.
Konsumsi alkohol berlebihan. Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan trigliserida.
Usia. Risiko berbagai penyakit jantung dapat meningkat seiring bertambahnya usia.
Riwayat keluarga dan faktor genetik. Riwayat penyakit jantung dalam keluarga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan saat menilai risiko seseorang.
Sebagian faktor tersebut, seperti usia dan riwayat keluarga, tidak dapat diubah. Namun, tekanan darah, kolesterol, diabetes, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, dan berat badan merupakan beberapa faktor yang dapat dipantau atau dikelola.
Catatan: Faktor risiko untuk serangan jantung, henti jantung, dan gagal jantung tidak sepenuhnya sama. Daftar di atas memberikan gambaran umum mengenai faktor yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskular dan bukan alat untuk menentukan risiko individual.
Cara Menjaga Kesehatan Jantung
Menjaga kesehatan jantung bukan hanya bertujuan untuk mencegah satu kondisi tertentu. Kebiasaan yang membantu mengendalikan tekanan darah, kolesterol, gula darah, berat badan, dan kesehatan pembuluh darah secara keseluruhan dapat berperan dalam menurunkan risiko penyakit jantung.
1. Pantau Tekanan Darah, Kolesterol, dan Gula Darah
Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi sering kali tidak memberikan gejala yang jelas. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki diabetes, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Hasil pemeriksaan sebaiknya didiskusikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan apakah diperlukan perubahan gaya hidup, pemantauan lebih sering, atau pengobatan.
2. Aktif Bergerak Secara Teratur
Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan jantung sekaligus mendukung pengelolaan tekanan darah, kolesterol, gula darah, dan berat badan.
Sebagai panduan umum, orang dewasa dianjurkan mendapatkan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu. Aktivitas dapat berupa jalan cepat, bersepeda, berenang, atau kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan tubuh.
Jika sudah lama tidak berolahraga atau memiliki penyakit jantung maupun kondisi medis tertentu, konsultasikan jenis dan intensitas aktivitas yang sesuai kepada tenaga kesehatan.
3. Perhatikan Pola Makan
Utamakan pola makan yang mencakup lebih banyak sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang sesuai kebutuhan. Pada saat yang sama, batasi konsumsi lemak jenuh, lemak trans, gula tambahan, natrium, serta makanan yang sangat diproses secara berlebihan.
Tidak perlu mengubah seluruh pola makan sekaligus. Perubahan kecil tetapi konsisten dapat menjadi bagian dari kebiasaan jangka panjang yang lebih baik untuk kesehatan jantung.
4. Berhenti Merokok dan Hindari Paparan Asap Rokok
Merokok dapat merusak jantung dan pembuluh darah serta meningkatkan risiko aterosklerosis dan serangan jantung. Paparan asap rokok juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang yang tidak merokok.
Bagi perokok, berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Dukungan tenaga kesehatan atau program berhenti merokok dapat membantu proses tersebut.
5. Jaga Berat Badan Sesuai Kondisi Tubuh
Kelebihan berat badan dan obesitas dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi, gangguan kolesterol, dan diabetes, yang juga merupakan faktor risiko penyakit jantung.
Alih-alih hanya berfokus pada angka timbangan, pertimbangkan kesehatan secara menyeluruh melalui pola makan, aktivitas fisik, tidur, serta pengelolaan kondisi medis bersama tenaga kesehatan.
6. Kelola Kondisi Kesehatan yang Sudah Ada
Jika telah didiagnosis hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung, atau kondisi lain, ikuti rencana pengobatan dan jadwal pemeriksaan yang diberikan tenaga kesehatan.
Jangan menghentikan atau mengubah obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
7. Jangan Mengabaikan Perubahan Gejala
Nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, pusing, mudah lelah yang tidak biasa, atau pembengkakan kaki yang baru muncul sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kelelahan biasa.
Catat kapan keluhan muncul, berapa lama berlangsung, dan apakah keluhan semakin sering atau berat. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan melakukan evaluasi.
Serangan Jantung dan Henti Jantung Merupakan Dua Kondisi Berbeda
Saat serangan jantung terjadi, aliran darah ke sebagian otot jantung terhambat, tetapi jantung biasanya masih berdetak dan orang tersebut masih mungkin sadar serta bernapas. Namun, kerusakan pada otot jantung dapat memengaruhi sistem listrik jantung dan memicu gangguan irama yang berbahaya. Dalam keadaan tertentu, gangguan tersebut dapat berkembang menjadi henti jantung.
Sebaliknya, henti jantung tidak selalu disebabkan oleh serangan jantung. Gangguan irama seperti fibrilasi ventrikel serta berbagai penyakit atau kondisi lain juga dapat menyebabkan jantung tiba-tiba berhenti memompa darah secara efektif.
Karena itu, serangan jantung tetap merupakan kondisi darurat meskipun seseorang masih sadar dan dapat berbicara.
Apakah Gagal Jantung Berarti Jantung Akan Berhenti?
Tidak. Istilah “gagal jantung” bukan berarti jantung telah berhenti bekerja.
Pada gagal jantung, jantung masih berdetak, tetapi kemampuan memompa darah tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh secara memadai. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala seperti sesak napas, mudah lelah, serta pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau bagian tubuh lain akibat penumpukan cairan.
Gagal jantung merupakan kondisi serius yang umumnya membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Penanganan dapat mencakup obat-obatan, perubahan gaya hidup, pemantauan gejala, serta penanganan kondisi yang mendasarinya.
Gejala yang semakin berat, seperti sesak yang memburuk, pembengkakan bertambah, atau kemampuan beraktivitas yang menurun, sebaiknya tidak diabaikan. Evaluasi tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah pengobatan atau penanganan perlu disesuaikan.
Kenali Kondisinya, Pahami Gejalanya, dan Ketahui Kapan Harus Bertindak
Serangan jantung, henti jantung, dan gagal jantung sama-sama merupakan kondisi serius, tetapi ketiganya tidak memiliki arti yang sama. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah menuju sebagian otot jantung terganggu atau tersumbat, sedangkan henti jantung terjadi ketika jantung tiba-tiba tidak mampu memompa darah secara efektif. Sementara itu, gagal jantung merupakan kondisi ketika kemampuan jantung memompa darah tidak lagi mencukupi kebutuhan tubuh.
Perbedaan tersebut juga memengaruhi gejala dan tindakan yang dibutuhkan. Serangan jantung dan henti jantung membutuhkan pertolongan medis segera, terutama ketika muncul nyeri dada yang tidak biasa, sesak napas, kehilangan kesadaran, atau tidak bernapas normal. Gagal jantung umumnya membutuhkan pengelolaan dan pemantauan jangka panjang, tetapi gejala yang baru muncul atau memburuk juga tidak boleh diabaikan.
Selain mengenali tanda-tandanya, menjaga kesehatan jantung melalui pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta pengelolaan faktor risiko dapat menjadi bagian dari langkah pencegahan. Namun, penyakit serius juga dapat membawa dampak finansial, mulai dari kebutuhan pengobatan hingga perubahan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, selain menjaga kesehatan, Anda dapat mempertimbangkan perlindungan finansial sebagai bagian dari persiapan menghadapi risiko penyakit kritis. Asuransi Penyakit Kritis Serangan Jantung Oona dapat menjadi salah satu pilihan perlindungan sesuai kebutuhan, manfaat, serta ketentuan polis yang berlaku.